Popular Posts

Tuesday, October 11, 2011

Ampun, Arjuna ! (Jika Cinta itu Menyakiti, Lebih Baik Tak Usah Mencintai Lagi)


Ibarat bunga teratai...
Anggun dan rupawan,terapung diatas permukaan air yang terus beriak
Berayun kekanan,berayun kekiri..terbawa aliran air yang seolah tak perduli
Tanpa menunjukkan ketakutan jika suatu kali riak  akan menenggelamkan daun kami

Bunga manapun pasti hendak dikagumi,hendak dikasihi
Begitu Arjuna memilih bunga ini..Ah,betapa girang hati teratai
Dipetik oleh Arjuna, sang Pahlawan menurut kabar angin yang sampai ditelinga
Teratai malang yang naif...
Sungguh indah mimpinya telah ia bumbung hingga menembus nirwana

Arjuna,jangan kau rebut kebebasan kami...
Sungguh kami teratai yang tak pantas dicampakkan di dalam bejana
Lincahnya aliran air,eloknya alam
Itulah tempat yang kami idamkan
Janganlah takut kami menghilang wahai arjuna
Sesungguhnya kami selalu tahu arah bagi kami untuk pulang disisimu

Arjuna, mohon kendalikan amarahmu..
Kami pun adalah insan berpikir
Jangalah kau cabut pita suara ini semudah engkau melepas anak panahmu
Jika kau cabut,
lalu apa yang akan kugunakan untuk menasehatimu ?
Untuk membisikkan dukungan kami bagimu?
Untuk meluruskan jalan mu jika engkau mulai menyimpang?
Untuk berdendang guna mengusir penat mu?
Ampunilah kami,wahai Arjuna...

Arjuna,mohon belas kasihan...
Janganlah kami menjadi objek pelampiasan amarah
Kasihanilah puputan-puputan yang belum juga mampu berjalan
Apa yang harus kami katakan pada mereka?
Apa yang harus kami ajarkan pada mereka?
Jika Arjuna ternyata tak lebih dari seorang Rahwana berkedok punggawa

Arjuna,mohon jangan kecewakan kami...
Bahwasanya kami berasal dari tulang rusukmu,
Wahai Arjuna,ingatlah bahwa kami lebih dari  seonggok daging
Kami telungkupkan kedua telapak kami
Melindungi hati kami yang rapuh dari tangan dinginmu,Arjuna !

Ketika kami tak lagi indah dimatamu,Arjuna
Ketika keanggunan kami pun lengser dimakan waktu
Tak terbersit sedikitpun kah dalam hati mu tentang kami
Ketika kami lantas dicampakkan demi setangkai mawar dari taman firdaus
Atau setidaknya,janganlah dirampas puputan yang kami cintai
Biarlah puputan berada disisi kami
Akan kami rawat dan kami didik agar menjadi lebih baik dari teratai
Tapi kami ikhlas...
Karena kami adalah teratai milikmu,bahkan sampai akhir
Sungguh aliran sungai masih jauh,mubazir untuk dilalui dengan mengeluh
Kami kan mengapung,mengalir pergi
Mengembangkan kelopak-kelopak kami lagi
Ibarat teratai yang terbawa riak arus sungai

Inilah rintihan hati sekuntum teratai
Inilah kisah perempuan-perempuan dari negeri antah berantah

Hujan Sesaat

Pagi itu, aku dan sobat ceking ku duduk-duduk dibawah pohon. Si mantan gondrong yang ceking tadi sedang sibuk menghisap kreteknya, sementara aku....yah,aku terpaksa sibuk menghisap asap racun yang dikeluarkannya. Haha, mau bagaimana lagi ? 5 tahun bersahabat dengannya, segala suka-duka pun telah dilewati bersama. Jadi kurasa, berbagi asap rokok diusia produktif kami tidaklah perlu dipermasalahkan.

Pagi itu, suasana kampus lagi-lagi riuh rendah. Lebih ramai dari biasanya. Biasanya kampus hanya dipadati mahasiswa-mahasiswa pengejar nilai A, dan orang-orang yang jadi calo nitip tanda tangan absen oleh teman-temannya. Pagi ini, kampus seolah-olah dipadati para pemuda-pemudi berjas almamater.

"Apaan nih ? Kok tumben rame ?" tanya si Ceking.

" Mo demo kayaknya..." jawabku ringan sambil melanjutkan bacaan ku.

"Ngga ikut kamu ?"

"Nggak..."

"Kenapa ? Padahal biasanya kamu yang paling sering berorasi didepan ?" cecar si Ceking yang kini mulai menyebalkan.

"....lihat saja nanti ..."

"Kak, ini pernyataan sikap kami,kak..",tiba-tiba muncul dihadapan kami seorang junior gondrong beralmamater serupa dengan kawan-kawannya sambil menyerahkan beberapa lembar selebaran. Si junior datang dan menyapa Ceking karena Ceking dulunya juga dikenal sebagai jagoan kampus berambut gondrong -sampai kemudian dia memutuskan untuk turun takhta dengan memangkas habis rambutnya. Sedangkan aku...yah,hanya senior kutu buku aneh sahabat si Ceking.

"Isu nya apa ?" tanya Ceking penasaran.

"Kakak tidak lihat berita yaa ? Katanya anggaran pembelanjaan negara untuk setelan-setelan presiden itu luar biasa membludak ! Kita tidak boleh membiarkan ini kak! Bla..bla...bla..." sisa argumen si junior berjas almamater tak ada bedanya dengan angin lalu ditelingaku. Lewat begitu saja. Sedangkan aku.. yah,masih sibuk dengan bukuku.

“Tidak ikut ki’ kak ?” tanya si junior padaku tiba-tiba.

“Tidak usah,terima kasih. Ini panggungmu sekarang,” jawabku sambil tersenyum. “Aku dan Ceking disini saja”

Dan si demonstran pun berlalu.

“Eh,kamu serius ngga mau ikut demo kali ini ?” tanya si Ceking penasaran.

“Memangnya kenapa ?”

“Ndak ji…aneh saja”. 

Di kejauhan kami melihat massa mulai berkumpul disekeliling tugu. Meneriakkan sumpah serapah, hanya beberapa orang yang Nampak berorasi dengan bahasa ‘intelektual’. Atau simpelnya, bahasa yang kurang dipahami orang awam yang tidak mendapatkan pelajaran kepujanggaan.

“Menurut mu….. isu setelan presiden itu,penting ndak ?” tanyaku pada Ceking
.
“Penting lah ! Semua orang juga berkata seperti itu” jawabnya.

“Kata siapa ?”

“Kata media. Kan berita setelan presiden ini sudah jadi bahan perbincangan di teve-teve selama 2 hari ! Di Koran-koran juga”. Kini kami berdua menyaksikan asap hitam mulai terkepul. Tanda ban pun telah dibakar.

“Wah,bakalan ricuh nih..” ujar si Ceking khwatir.

“Ah,ngga kok…” jawabku cuek

“Kok bisa ?”
  
“Lihat…langit mendung.”

“Terus ?”

“Lihat saja…”

Seperti sihir, awan mendung yang tadinya bergelut malu kian menggelap. 10 menit..15 menit..tak lama kemudian titik-titik hujan pun jatuh membasahi bumi. Seperti kehujanan batu, para demonstran baik itu wanita, lelaki, si necis bahkan si gondrong pun berlarian meninggalkan lokasi aksi. Tak ada kilat yang menyambar…hanya tetes-tetes hujan yang jatuh dengan angkuhnya, seolah menantang kesiapan hati para demonstran. Dan itupun telah dimenangkan oleh sang hujan dalam waktu tak sampai dua menit.

Berbeda dengan para demonstran yang masih ‘hijau’ itu, aku dan Ceking justru lebih suka beradem-adem ria dibawah rintik hujan.

“Ih,itu ji ? Demo nya kalah sama hujan ?”

“Ha ha…begitulah kawan. Kau tahu … mahasiswa hari ini sudah terlalu dibawah pengaruh media. Begitu liat berita korupsi di tivi,langsung buru-buru demo. Begitu liat berita setelan, langsung buru-buru demo. Tak ada lagi kaum intelektual yang mau bersusah payah melakukan penyelidikan tentang permasalahan utama negeri ini. Tak ada lagi yang sanggup meramalkan dampak kedepannya. Tak ada lagi yang mau menatap masa depan bangsa ! Semuanya terpengaruh apa yang media ingin perlihatkan.” celetuk ku kepada Ceking.


“Iya ya…padahal,media hari ini kan punya para pembesar partai juga” ujar Ceking sambil manggut-manggut
.
“Kini kuulang pertanyaanku,kawan….Dibandingkan dengan isu setelan presiden, sepenting apa sih isu Centurygate yang kini telah tertutup kabut ? Gimana kabarnya si pemegang kunci misteri yang bernama Nunung itu ? Apa kabar para pembunuh Munir dan Marsinah ? Kasus Nazaruddin,bagaimana buntutnya ?”

………………… kali ini Ceking terdiam. Kami pun terdiam menyaksikan butir-butir hujan yang kian menguap ditelan angin. Hingga akhirnya hujan pun tak tersisa. Hanya air menggenang menjadi saksi bahwa hujan pun sempat meninggalkan jejaknya disini.


“Tak ada lagi orang-orang yang betul-betul ingin berjuang. Semuanya hanyalah…euphoria semata. Untuk apa demonstrasi ? Kalo demonya hanya satu-dua hari tanpa ada keinginan untuk mendampingi hingga pada tahap penyelesaian..apa gunanya ? Semua masalah besar dengan mudah dikaburkan oleh isu kecil lainnya. Murahan…”

Kali ini kutengadahkan kepalaku memandang langit yang sendu..

“……Semuanya… Hanyalah hujan sesaat…..”

***
“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanaman-tanaman bumi, di antaranya ada yang dinamakan manusia dan binatang ternak.
Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya,dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin.
Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir.”
( Q.S Yunus : 24)

Monday, October 10, 2011

Aku adalah Hadiah Dariku (apologi)

Ibundaku tersayang..mohon maafkan putri mu ini
putri yang engkau kandung sembilan bulan lamanya
meski dalam menghadapi cobaan lapar dan haus di bulan puasa

Ibundaku tersayang...mohon maafkan ananda
Yang mengakibatkan rasa sakit yang tak terperikan ketika dirimu melahirkanku ke dunia ini
Dirimu persembahkan padaku cemerlangnya warna-warni dunia
dan wanginya bulan Ramadhan
Maafkan tangisku yang memekakkan telinga
Namun engkau anggap tangis itu laksana nyanyian yang paling merdu dari surga
Sungguh tak mampu kususun dengan kata-kata segala rasa terima kasih ini

Ibundaku tersayang...mohon maafkan ananda
Atas segala kesulitanmu dalam membesarkan putrimu ini
Susah payah menyeimbangkan antara bekerja dan merawat putra-putrimu
Melaksanakan tanggung jawab keprofesian sekaligus tanggung jawab rumah tangga
Kau sempatkan juga dalam waktumu yang padat itu untuk memberiku pelajaran
Entah itu moral,etika,sains,seni..apa saja yang bisa engkau ajarkan padaku yang belum mengenal dunia

Ibundaku tersayang..mohon maafkan ananda
Ketika suatu hari putrimu ini pulang sambil menangis
Menangis karena diusili beberapa anak nakal
Tapi engkau lantas tak gelap mata
Engkau ajari aku akan integritas diri
Engkau ajari pula aku beberapa metode praktis bela diri
Sungguh beruntung aku ber-ibu seorang mantan atlit karate..
Namun ilmu ini tak hanya kupakai untuk membela diri
Sesekali pula kupakai untuk berantem dengan anak kelas sebelah
Hingga akhirnya ku disetrap pak guru
Tangan pun dihadiahi lecut kemoceng
Ah,sungguh malu hatiku...maaf bu,aku pun pasti telah membuatmu malu

Ibundaku tersayang..mohon maafkan ananda
Yang tak pandai bersolek seperti putri ibu-ibu yang lain
Sungguh aku merasa nyaman dengan 'kulit'ku ini
Sesungguhnya,kecantikan sejati itu berasal dari 'dalam',
Namun sebagian orang butuh untuk mempercantik bagian 'luar' guna memunculkan inner beauty itu
Dan jelas aku bukan salah satu dari mereka
Ibunda,terima kasih atas pengertiannya selama ini..

Ibundaku tersayang...mohon maafkan ananda
Yang senang menghabiskan waktu dengan menyendiri
Meskipun ku tahu itu kurang baik bagiku.
Tapi duduk diam mengamati polah tingkah manusia yang aneh
Adalah kesenangan tersendiri bagiku.

Ibundaku tersayang… atas segala yang telah kau curahkan bagiku,
Kutahu harta permata takkan bernilai barang sebutir gabah jika dibandingkan dengan jasamu.
Dalam usiamu yang kian menua, kutahu materi dunia tak lagi bermanfaat bagimu.
Ibundaku tersayang… takkan mampu kujaminkan surge dunia bagimu.
Tapi kupastikan setiap langkahku akan senantiasa mendekatkanmu dengan wangi surga.
Ibundaku tersayang…akulah hadiah dariku

~Jasmine Ramadhani Zulkarnain~

Saturday, October 8, 2011

Bukan Siti Nurbaya

“ Ohh, memang dunia buramkan segala logika.
Seolah-olah hidup kita ini hanya ternilai sebatas rupiah.
Dengarkan manusia yang terasah oleh falsafah.
Saat katanya… itu bukan dogma”
-Dewa 19 : Cukup Siti Nurbaya

***

Sejak lahir, persegi berteralis ini adalah pemandanganku sehari-hari.

Di kala mentari menyapa, daunya terbuka lebar-lebar…. Menyapa embun pagi yang mengelus wajahku.

Di kala rembulan terbit, daunnya menutup.. memberiku perlindungan dari angin gunung yang menggigit.

Selain persegi berteralis ini, tak ada satupun yang berani member tahuku tentang apa yang terjadi diluar sana.

Kata Abah, dunia luar itu penuh orang jahat. Titisan Setan ! Pemuda-pemuda berambut gondrong yang suka musik-musik barat.Orang-orang murtad.

Kata Ummi, seorang anak gadis terhormat tak boleh mengobral dirinya didepan umum. Cukup sebatas halaman belakang saja, itupun tak boleh jika ada lawan jenis yang melihat.

Gadis suci yang dijaga ibarat barang antik yang begitu berharga.

Hanya persegi berteralis menjadi kawanku…



Kawanku,persegi berteralis memperkenalkan aku dengan indahnya warna pelangi.

Terkadang ada beberapa ekor burung kecil yang hinggap,sekedar menantikan remah sisa sarapan pagi ku.

Ada rumput, ada pohon, ada penjual panci keliling, ada sepeda, bahkan temuan manusia paling ajaib yang pernah kulihat ! Sebuah teknologi Barat yang bernama mobil.

Abah sangat membenci mobil.. dan segala sesuatu yang berbau Barat.

Kadang dibantingnya daun kawanku ketika  didapatinya aku mengagumi mobil-mobil yang lalu lalang maupun wanita-wanita berpakaian renda yang begitu cantik.

Kata Ummi, Abah tak ingin aku jadi ikut-ikutan para pemuda pemudi  murtad itu.



Jika boleh jujur, sebenarnya aku tak suka hidup begini.

Aku ingin sekali terbang bebas seperti burung-burung kecil yang sering hinggap di tepi tubuh kawanku.

Ingin melihat sampai seberapa jauh kah garis yang membatasi antara langit dan bumi

Ingin berpakaian cantik seperti gadis-gadis Indo yang lalu lalang

Ingin mengendarai mobil.

Ingin bersekolah seperti kebanyakan pemuda-pemudi lainnya

Dan bukannya hanya kedatangan seorang Ustadzah tiga kali seminggu untuk mengajariku baca,tulis, dan mengaji.

Kawanku persegi berteralis,selalu setia menemaniku berkhayal..meski semua hanya mimpi kosong.



Pada hari ‘bersejarah’ itu, kawanku persegi berteralis mengkhianatiku !

Saat itu aku tengah asyik menyulam sambil bercengkrama dengannya, hingga ketika ‘dia’ lewat.

Dia yang tak ku kenal namanya…seorang pria,seperti Abah tapi jauh lebih muda.

Seusiaku ku kira..

Tubuhnya tegap dengan perawakan gelap. Mata kobalt hitamnya memandang lurus penuh kharisma.

Hidung yang mancung dan bibir yang tebal berhias sengiran,bukan senyuman. Berbingkai rambut ikal tebal sepanjang bahu.

Ia lewat sambil berbincang dengan kawan sesama bersetelan hitamnya, tak memperdulikan pandangan menggoda gadis-gadis yang dilaluinya. Bahkan pandangan takjub ku pun tak dihiraukannya.

Ya Allah, maafkanlah hambaMu yang mengagumi ciptaanMu ini dengan cara yang berlebihan, Yaa Allah..

Saat itu aku baru berusia 13 tahun.



Dia tetap tak bernama meski kerap kupandangi dia melalui kawan berteralisku hingga 48 purnama telah berlalu.

Dari kawan berteralisku, kuketahui bahwa ternyata ia ternyata tinggal di kampong sebelah. Dia sering berkunjung kemari karena sahabatnya tinggal disini. Dia suka dengan musik Barat. Pada saat-saat tertentu,dia akan datang dengan menenteng biola ditangannya. Mozart, Bach, Beethoven..semua dia sukai ! Dia juga sering ke masjid, tapi tak suka jika para imam menggerutu tentang rambutnya yang tetap sebahu. Dia juga tak suka wanita yang sering menggodanya. “Murahan..” , itu kata yang pernah terlontar dari bibirnya beberapa purnama yang lalu.

Dia…tidaklah seperti setan, seperti wejangan Abah tiap harinya.

Dia …berbeda. Dan semakin hari..dia tumbuh menjadi semakin…menarik.

Pada usia keempat belasku, dia terlihat menenteng-nenteng buku tebal karya Karl Marx.

Pada usia kelima belasku, kulihat dia sedang berpidato dihadapan sejumlah pemuda kampong lainnya.

Pada usia keenam belasku, kulihat dia kian disambut hangat oleh para pemuda kampong.

Setiap tahun aku hanya sanggup mengagumi dia dari jauh.

Karena kawanku persegi berteralis bukanlah pintu yang sanggup mengijinkanku meraihnya.



Pada usia ketujuh belasku, aku dipaksa berhenti mengidamkan dia.

Karena,hari ini aku tlah berpisah dari kawanku persegi berteralis.

Karena, besok… aku pun akan pindah ke kampong suamiku.

Ya, Abah dan Ummi telah memilihkan untukku seorang imam bagiku

Imam yang di masa depan mungkin sanggup membimbingku, tapi tak menguasai hatiku saat ini

Karena imam itu bukanlah dia.

Carut marut hatiku melihat imamku itu membaca ijab Kabul dihadapan penghulu.

Sosok pria yang baru kulihat di hari pernikahanku.

Kawanku persegi, begitu jahat dirimu !

Kau perkenalkan ku pada cinta yang tak mungkin kuraih !

Derai air mata bercucuran dalam hening..tanpa seorangpun yang tahu



***

Kuamati putri berusia tujuh belas tahunku..

Begitu mungil, begitu sedih..

Kulihat dia memandang pilu ke arah seorang pemuda dari ambang jendela.

Lagi-lagi.... ku teringat dirinya dan kawanku si persegi berteralis.

Lantas kutepuk bahu putriku seraya berbisik, “Keluarlah lewat pintu itu,nak. Dan berkenalan dengan lah dengannya. Karena jendela diciptakan hanya untuk memandangi segala kemungkinan. Sementara pintu akan membantumu mewujudkan kemungkinan tersebut”



Kulihat raut wajahnya memerah sejenak, namun dengan bersegera ia mengecup pipiku seraya berlari keluar rumah untuk berkenalan dengan sang pemuda.

Ya, aku tak menyesali hidupku… tapi aku ingin putriku memiliki pilihan.

Pilihan yang tak kumiliki dulu……..

***
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ”
(Q.S Ar’Rad : 11)

Wednesday, October 5, 2011

Tempat 'Bermain' Yang Asyik !

“Mau tau ngga mafia di Senayan,kerjaannya bikin peraturan.
Bikin UUD….Ujung-Ujungnya Duit !
Kacau balau, kacau balau negaraku ini !”
-Slank : Gossip Jalanan

***

Lihatlah mereka !
Begitu lucu dan begitu ceria di masa keemasan mereka
Pipi-pipi montok melengkung ke atas dengan derai tawa ringan tanpa beban pikiran
Baik laki-laki maupun perempuan, semuanya berlilitkan pakaian-pakaian cerah berwarna-warni
Ada yang warna biru, kuning, merah, hijau, dan masih banyak lagi.

Lihat,lihat…yang botak itu namanya Udjo.
Dia sangat senang dengan seragam berwana cerah dan sepatu mengkilapnya.
Udjo selalu datang kesiangan, diantar dengan kendaraan beroda empat.
Meskipun sering telat,Udjo ngga pernah merasa bersalah.
Dengan langkah pongah dan perut yang membuncit,ia pun masuk ruangan dan disambut riuh oleh teman-temannya.
Sebab…kalo tak ada Udjo, permainan pun takkan mulai.

Lihat,lihat…. Yang manis itu namanya Cinta.
Kalo si cantik ini senang sekali bersolek,mirip artis sinetron di tivi.
Sekali berkedip, segala permintaannya pasti dikabulkan oleh teman-teman sebayanya.
Cinta tidak pernah salah. Kalo Cinta terbukti salah,maka ia akan menangis sejadi-jadinya.
Air matanya yang berderai membuat luluh hati orang-orang disekitarnya.
Cinta, Maharatu dari kelompok ceria ini.

Lihat,lihat… Yang gembul itu namanya Gion.
Yang satu ini sangaaatlah rakus. Apapun yang terlihat dalam pandangannya pasti dilahapnya.
Gion tak suka berbagi. Jika berhasil menemukan sesuatu yang bisa dilahap, maka ia akan menyembunyikannya.
Disembunyikan dibawah meja, disembunyikan didalam saku..dimanapun,yang penting tak seorangpun yang boleh tahu !
Kalo tak ada yang lihat…nyam,nyam,nyam. Aih,betapa lahap nya dia !

Lihat,lihat… cerianya mereka ‘bermain’.
Kemudian tiba-tiba ada salah seorang yang terpaksa maju kedepan..membacakan essay buatannya.
Semua mata tertuju padanya.
Namun…hahaha,dasar mereka !
Memang mereka tidak sanggup tahan berlama-lama mendengarkan ocehan temannya.
Ada yang lantas mengunyah bekalnya. Ada yang pura-pura memperhatikan sementara dibawah laci telah terpampang gambar-gambar yang lebih memikat matanya.
Tapi lebih banyak lagi yang tertidur pulas !
Hahaha…aku tak heran kawan ! Sekarang memang telah menunjukkan waktu tidur siang.

Wah,jangan lupakan untuk menengok si Udin kawan !
Udin yang satu ini bukan Udin sembarangan..
Setiap kali bermain petak umpet,dia selalu sanggup bersembunyi paling lama.
Sudah ketahuan pun,masih tak mau juga mengalah !
Malah menuduh bahwa temannya lah yang kalah !
Hahaha…udin,udin

Wah,sudah selama ini kuceritakan padamu tentang apa yang kulihat,kawan.
Tapi belum juga kuberitahukan dimana aku berada.
Dapatkah engkau menebaknya,boi ?

……………………………………………
……………………………………………
……………………………………………

Apa ? Taman Kanak-Kanak ?
Wahahahahahaha…kali ini kau salah,kawan !
Aku tak sedang asyik mengamati pola tingkah anak TK…
Saat ini aku sedang studi banding di Gedung Wakil Rakyat

…………………………………………….

Mau tertawa ? Hahahahahahaha
Lucunya negeri  ini
foto ini diambil dari oom gugle loh...hehe 

Monday, October 3, 2011

Hilang... Atau Kembali ?

“Sisa-sisa mayat manusia sangatlah berharga, bila ia bersikap mulia ketika masih hidup”
-Emily Brontë

Terik matahari di Selasa pagi yang cerah bersinar menerangi bumi.. matahari yang sama ketika aku bertemu wanita itu. Wanita yang kutemui disebuah taman didepan Rumah Sakit tempatku bekerja sebagai perawat. Perawakannya mungil. Tubuh rampingnya berbalutkan sundress berwarna putih. Diatas kepala kecilnya bertakhta sebuah sorban berupa pasminah yang dililitkan –sungguh gaya fashion yang aneh,jika kau menanyakan pendapatku. Wajahnya yang pucat berhiaskan mimik wajah yang kebingungan. Dia nampak berjalan bolak-balik sambil sesekali melongok ke bawah kursi taman. Sepertinya ada yang dicarinya..maka kusapa dia.


      “Ada yang hilang ya mbak ?”. Dia terpaku mendengar pertanyaanku.


“Emm,mungkin bisa saya bantu cari ?”,lagi-lagi aku memecahkan keheningan dengan pertanyaan basa-basi yang layaknya ditanyakan seorang ramah yang kebetulan lewat. Tapi kali ini si wanita tak lagi terdiam. Dia malah menghela nafas panjang dengan ekspresi wajah yang merana.


“Iya,saya sedang mencari sesuatu,mbak..”


“Kalo boleh tahu,yang dicari itu apa ya mbak? Siapa tahu saya bisa bantu ?”


“ …… yang saya cari itu…adalah sesuatu yang sangat berharga bagi saya” jawabnya dengan pandangan nanar.


“Perhiasan ya mbak ? Mungkin jatuh di sela-sela saluran got. Kalau kita hubungi dinas Pertamanan,mungkin mereka bisa bantu” usulku.


“Ah,tidak mungkin. Yang saya cari ini ukurannya lebih besar dari perhiasan. Begitu besarnya,orang yang saya kenal pasti tahu bahwa saya telah kehilangannya. Padahal..benda itu selalu melindungiku dalam keadaan apapun. Memayungiku dengan rasa amannya”


“Melindungi ? Memayungi dengan rasa aman ? Aha,apakah yang anda cari itu adalah sebuah payung,mbak ? Kalo memang payung anda ketinggalan di taman ini maka barangkali sudah ada orang lain yang menemukannya dan mungkin menitipkannya di pos satpam terdekat.”


“Bukan,bukan payung. Yang kucari bukanlah payung,mbak. Yang kucari adalah sesuatu yang dapat terbang menjauh”


“Terbang menjauh? Apakah itu seekor burung ? Wah,kalo burung yang terbang sudah bisa saya pastikan tidak akan kembali lagi,mbak”. Sedetik,kutangkap raut putus asa diwajahnya. Barangkali kali ini tebakanku tepat ? Seekor burung kah yang hilang ?


“Mungkin ia seperti seekor burung,” ucapnya sendu sambil melemparkan seulas senyum kearah langit yang cerah. “tapi yang kucari ini tak dapat bertelur,tak dapat berkicau, dan tak berbulu. Selama ini ia tak pernah meninggalkanku. Seumur hidupku selalu tak berpisah denganku. Benda yang begitu berharga bahkan dengan uang sejumlah berapapun”


“Hmm..benda berharga yang tak ternilai harganya ? Barang antik kah?” tebakku sekali lagi.


“Ha ha… bukan,oh bukan. Meskipun seusia denganku,ia bukanlah benda mati. Yang kucari adalah ia yang begitu kusayang. Satu-satunya milikku yang setia mendampingi dalam tawa saya maupun dalam tangis saya.”


“Bukan benda mati dan selalu mendampingi ? Mbak diputusin pacar ya ? Wah,ngga usah ditangisin mbak.. Barangkali belum jodoh. Nanti juga bakalan ketemu yang cocok.”


“Bukan,bukan juga pacar mbak.. Ha ha. Kehilangan ia jauh lebih sengsara daripada kehilangan pacar. Lagipula.. yang kupunya ini bukan sepenuhnya milik saya kok,mbak. Hanya pinjaman. Titipan dari Dia semata.” Ucap wanita bersorban sembari tersenyum padaku.


“Barang titipan ? Hmm..saya yakin apapun yang mbak cari barangkali sudah diambil yang punya. Sudahlah mbak, jangan bersedih. Apa yang bukan milik kita ketika telah tiba waktunya maka harus segera dikembalikan. Ikhlaskan sajalah mbak. Daripada bersedih karena kehilangannya,bukankah jauh lebih baik bersyukur karena pernah memilikinya ?” kataku mencoba menegarkan hatinya.


Perlahan tapi pasti, senyum pun mulai terkembang seiring dengan kemampuan benak si wanita mencerna kata-kataku tadi. Mata yang tadinya sendu kini menemukan sinarnya kembali. Dengan tulus si wanita lantas menggenggam tanganku.


       “ Ternyata memang sudah kembali ! Terima kasih banyak,mbak. Tanpa mbak,saya takkan mungkin sadar” ucapnya tulus.


Belum sanggup kutemukan kata-kataku, tiba-tiba dia membuka pasminah yang sedaritadi membungkus kepalanya. Astagfirulloh, ternyata pasminah itu membungkus kepala kecil yang licin tanpa sehelai rambutpun. Semakin terlihat jelas kondisi si wanita yang sepertinya dalam keadaan tidak sehat.


       “Sekarang saya sudah lega. Terima kasih banyak ya mbak perawat !” sahutnya riang sambil berjalan menuju gedung Rumah Sakit.


Sejenak aku terdiam,namun satu pertanyaan berhasil menguasai kekakuan lidahku..


     “ Eh…mbak ! sebenarnya…. Yang sedang dicari… apa?”


Sejenak ia berbalik dan menjawab sambil tersenyum ringan, “Semangat Hidup…”


***


Siang ini,aku lagi-lagi dapat giliran piket siang. Kudengar bincang-bincang sesama perawat yang menangani pasien di bangsal perawatan intensif. Ada seorang pasien penderita kanker otak yang baru meninggal katanya. Seorang wanita kurus yang kepalanya botak akibat kemotheraphy. Dia meninggal seusai subuh katanya. Kudengar…kata-kata terakhir wanita itu adalah “Segala sesuatu yang berasal dari-Nya akan kembali pada-Nya”.



~end~

“Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi,
Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan”
(Q.S Ali ‘Imran: 109)